Jurnalpapuanews.com || NABIRE – Kejar tayang pembangunan infrastruktur di Daerah Otonom Baru (DOB) Papua Tengah mendapat kawalan ketat dari pusat. Dua Wakil Menteri perempuan tangguh—Wakil Menteri Dalam Negeri Ribka Haluk dan Wakil Menteri Pekerjaan Umum Diana Kusumastuti—melakukan inspeksi mendadak langsung ke jantung pembangunan Pusat Pemerintahan Papua Tengah di Karadiri II pada Rabu (3/6/2026).

Langkah “turun gunung” kedua Wamen ini menjadi sinyal kuat bahwa Jakarta tidak ingin proyek strategis nasional di bumi Cenderawasih ini berjalan di tempat. Didampingi langsung oleh duet kepemimpinan Papua Tengah, Gubernur Meki Nawipa dan Wakil Gubernur Deinas Geley, rombongan meninjau megaproyek yang bakal menjadi poros pelayanan publik tersebut.
Berdasarkan laporan site manager di lapangan, progres fisik pembangunan saat ini baru menyentuh angka 20 persen pada minggu ke-20 berjalan. Angka yang terbilang menantang, mengingat kompleksitas proyek Gedung Kantor Gubernur Papua Tengah, Gedung DPR Papua Tengah, Gedung Majelis Rakyat Papua (MRP) Papua Tengah, Tiga tower perkantoran Pemprov, Rumah Susun (Rusun) khusus ASN, Pematangan lahan (land development) dan penataan kawasan makro.
Meski menyisakan sisa persentase yang besar, pihak pelaksana proyek optimistis mampu melakukan akselerasi. Target besar pun dipatok: seluruh fasilitas utama wajib rampung dan fungsional pada Desember 2026.
“Alhamdulillah, tadi kita lihat progresnya cukup bagus. Mudah-mudahan ini bisa selesai tepat waktu sesuai jadwal pada Desember 2026 nanti,” ujar Wamen PU, Diana Kusumastuti, optimistis. Ia juga memastikan kementeriannya akan terus fleksibel mengawal penyesuaian teknis di lapangan.

Salah satu poin menarik dalam kunjungan ini adalah adanya evolusi desain arsitektur. Pihak kontraktor memaparkan adanya perubahan pada desain atap bangunan utama.
Jika awalnya bangunan dirancang menggunakan replika atap Honai bulat penuh, kini desainnya bertransformasi menjadi visual yang lebih modern dan futuristik. Meski demikian, esensi dan karakter arsitektur khas Papua dipastikan tetap melekat kuat sebagai identitas kultural.
Bagi Wamendagri Ribka Haluk, pembangunan Puspem ini bukan sekadar urusan semen dan beton, melainkan fondasi martabat pelayanan publik bagi masyarakat Papua Tengah. Kecepatan Pemprov dalam merespons pembangunan ini dinilai layak diapresiasi.
“Saya pikir pembangunan Papua Tengah akan menjadi referensi dan ini titik awal kebangkitan Papua Tengah di bawah pimpinan Meki Nawipa,” tegas Ribka Haluk.
Dengan sisa waktu kurang dari tujuh bulan, kawasan Karadiri II Atas kini menjadi arena pacuan waktu. Kehadiran kompleks pemerintahan yang representatif ini diharapkan segera mematangkan roda birokrasi, sehingga pelayanan masyarakat di provinsi baru ini bisa berlari lebih kencang.
(YM)
Editor : Yakop Mongan













