Jurnalpapuanews.com || NABIRE – Semangat nasionalisme membakar suasana di Papua Tengah saat Albert Ali Kabiay, Sekretaris Jenderal Dewan Pembinaan Pusat (DPP) Barisan Merah Putih Republik Indonesia, memberikan pernyataan tegas terkait momentum kembalinya Papua ke pangkuan Ibu Pertiwi. (01/05/2026).
Dalam orasinya, Albert menekankan bahwa sejarah kembalinya Papua pada 1 Mei 1963 bukan sekadar tanggal di kalender, melainkan harga mati bagi kedaulatan bangsa yang harus dipahami oleh seluruh generasi muda.
Albert mengingatkan kembali dasar hukum kemerdekaan Indonesia. Sesuai prinsip hukum internasional Uti Possidetis Iuris, wilayah Indonesia secara otomatis mencakup seluruh bekas jajahan Hindia Belanda, termasuk Papua.
”Meskipun Belanda sempat menahan Irian Barat, melalui perjuangan panjang—mulai dari Konferensi Meja Bundar, New York Agreement, hingga puncaknya PEPERA—Papua akhirnya resmi kembali ke bingkai NKRI,” tegasnya.
Selain mengenang sejarah, tokoh Barisan Merah Putih ini juga menitipkan pesan krusial bagi masa depan Papua Tengah:
• Pentingnya Sejarah: Generasi muda dilarang lupa akan perjuangan para pendahulu dalam mempertahankan Papua.
• Toleransi & Adat: Persatuan di atas keberagaman adat adalah kunci kekuatan masyarakat Papua.
• Keamanan adalah Investasi: Albert menyoroti hubungan langsung antara keamanan (Kamtibmas) dengan kemajuan ekonomi.
”Kalau wilayah kita aman, maka investasi masuk, daya beli ekonomi tumbuh, dan rakyatlah yang akan merasakan dampak positifnya langsung,” tambah Albert.
Menutup pernyataannya, ia menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pemerintah Kabupaten Nabire, Pemerintah Provinsi, Forkopimda, serta jajaran TNI-Polri yang telah menjaga kondusivitas sehingga perayaan momentum sejarah ini dapat berjalan sukses dan positif.
Pesan ini menjadi pengingat bagi seluruh elemen masyarakat bahwa menjaga kedaulatan bukan hanya tugas aparat, melainkan tanggung jawab bersama demi kesejahteraan tanah Papua.
(YM)
Editor : Yakop Mongan













