Jurnalpapuanews.com || Nabire – Gejolak penolakan terhadap tindakan sepihak di kawasan wilayah adat kembali mencuat di Provinsi Papua Tengah. Tokoh perempuan sekaligus pemilik hak ulayat dari wilayah pesisir Makimi dan Nifasi, Maria Erari, menegaskan bahwa tanah Papua memiliki pemilik sah yang harus dihormati oleh semua pihak, termasuk instansi pemerintah dan satuan tugas penegak hukum. (10/8/2026).
Pernyataan tegas ini disampaikan Maria merespons aksi demonstrasi masyarakat adat serta dinamika yang terjadi akibat kehadiran Satgas Penertiban/PKH di wilayah Mosairo dan sekitarnya.
Dalam keterangannya, Maria menekankan bahwa setiap jengkal tanah di pesisir Makimi hingga Mosairo terikat oleh hak ulayat yang dilindungi oleh undang-undang, khususnya dalam kerangka Otonomi Khusus (Otsus) Papua.
”Kami ingin tegaskan kepada publik bahwa tanah ini bukan tanah kosong! Tanah ini bertuan, khususnya di tanah Papua dan Provinsi Papua Tengah. Siapa pun yang datang atas nama aturan harus menghargai masyarakat adat, kepala suku, dan tokoh-tokoh adat pemilik lokasi,” ujar Maria Erari.
Ia menambahkan bahwa masyarakat adat pesisir Makimi mendukung penuh gerakan masyarakat dalam mempertahankan hak-hak dasar dan sumber penghidupan mereka dari ancaman pengambilalihan atau aktivitas sepihak.
Mengenai kondisi riil warga setempat, Maria mengungkapkan bahwa kehadiran dan rencana langkah operasional Satgas PKH seperti rencana pembangunan helipad di kawasan Mosairo tanpa koordinasi yang jelas justru memicu keresahan mendalam di tengah warga.
Dampak dari situasi ini dinilai merugikan stabilitas ekonomi dan sosial masyarakat yang bersandar pada wilayah ulayat tersebut.
Maria mengimbau agar pemerintah daerah dan lembaga representasi adat tidak tinggal diam melihat penderitaan warga di tingkat tapak. Pihaknya berencana membawa aspirasi ini secara formal ke pemerintah, DPR, dan MRP dalam waktu dekat.
”Jangan buat masyarakat kasihan jadi korban akibat langkah yang tidak memperhitungkan keberadaan tuan tanah. Kami ingin tenang, kami ingin hidup layak. Tolong koordinasi dan hargai keberadaan kami,” pungkasnya.
(YM)
Editor : Nay berliana













