Mali Resmi Mencabut Pengakuan terhadap SADR dan Dukung Kedaulatan Maroko

- Penulis

Sabtu, 11 April 2026 - 03:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jurnalpapuanews.com || Bamako – Sebuah langkah diplomatik besar kembali mengguncang tatanan politik di benua Afrika. Pemerintah Mali secara resmi mengumumkan pencabutan pengakuannya terhadap entitas bentukan Polisario, yang dikenal sebagai Republik Demokratik Arab Sahrawi (SADR). Keputusan bersejarah ini diumumkan di tengah kunjungan kenegaraan Menteri Luar Negeri Maroko, Nasser Bourita, ke Bamako dalam rangkaian tur diplomatiknya di Afrika, baru-baru ini.

Menteri Urusan Luar Negeri Mali, Abdoulaye Diop, menyampaikan posisi terbaru negaranya setelah mengadakan pertemuan mendalam dengan Bourita. Keputusan ini menandai berakhirnya pengakuan resmi yang telah diberikan Mali kepada SADR sejak tahun 1980, sekaligus memberikan pukulan telak bagi narasi separatisme di kawasan Sahara Barat.

Pemerintah Mali menegaskan bahwa pergeseran kebijakan ini diambil setelah melakukan “analisis mendalam terhadap dokumen penting terkait Sahara, yang memiliki dampak signifikan terhadap perdamaian dan keamanan sub-regional.” Dengan langkah ini, Mali bergabung dengan daftar panjang negara-negara di dunia yang telah menarik dukungan mereka terhadap kelompok separatis Polisario yang didukung Aljazair.

Keputusan Mali tidak hanya berhenti pada pencabutan pengakuan. Secara resmi, Bamako juga menyatakan dukungan penuhnya terhadap Rencana Otonomi Maroko (Morocco’s Autonomy Plan) sebagai satu-satunya basis yang serius, kredibel, dan paling realistis untuk menyelesaikan sengketa wilayah tersebut. Mali memandang bahwa otonomi asli di bawah kedaulatan Kerajaan Maroko adalah jalan keluar terbaik bagi stabilitas kawasan.

Perkembangan luar biasa ini mendapat perhatian dan apresiasi tinggi dari Indonesia. Wilson Lalengke, selaku Presiden Indonesia-Saharan Moroccan Brotherhood (Persisma), menyampaikan pernyataan dukungan yang kuat atas kerja sama antara Mali dan Maroko. “Sebagai Presiden Persisma, saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pemerintah Mali atas keputusan berani dan cerdas ini. Pencabutan pengakuan terhadap SADR adalah pengakuan terhadap realitas sejarah dan hukum internasional. Kami mendukung penuh perkembangan luar biasa ini, karena perdamaian di Sahara hanya bisa dicapai melalui persatuan, bukan separatisme,” ujar Wilson Lalengke dari Jakarta, Jumat, 10 April 2026.

Baca Juga:  Bungkamnya Kalangan Pendidik atas Kasus Ijazah Jokowi Pertanda Dunia Pendidikan Indonesia Miskin Moral

Petisioner HAM PBB 2025 ini menambahkan bahwa langkah Mali ini merupakan kemenangan bagi diplomasi perdamaian yang digerakkan oleh Yang Mulia Raja Mohammed VI. “Persisma melihat bahwa dukungan terhadap Rencana Otonomi Maroko adalah solusi yang adil bagi semua pihak. Kami mengucapkan selamat kepada kedua negara, Maroko dan Mali, atas penguatan hubungan bilateral ini. Ini adalah sinyal kuat bahwa narasi usang masa lalu telah ditinggalkan demi masa depan Afrika yang lebih stabil dan makmur,” tegas tokoh pers nasional dan alumnus Lemhannas RI tersebut.

Keputusan Mali ini memperkuat momentum internasional yang semakin memihak pada Maroko. Hingga saat ini, lebih dari 120 negara di komunitas internasional memandang Rencana Otonomi sebagai jalur paling kredibel untuk mengakhiri perselisihan. Dukungan serupa juga datang dari Uni Eropa dan Amerika Serikat yang terus mendorong penyelesaian politik yang layak.

Pemerintah Mali juga menyatakan dukungannya terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2797 yang diadopsi pada Oktober tahun lalu. Resolusi tersebut menggambarkan Rencana Otonomi Maroko sebagai solusi politik yang tulus. Dalam resolusi tersebut, PBB juga mendesak rezim Aljazair untuk terlibat secara aktif dalam proses politik yang dipimpin PBB guna menemukan solusi yang permanen dan dapat diterima bersama.

Pemerintah di Bamako menegaskan bahwa keputusan baru ini akan segera dikomunikasikan kepada seluruh organisasi regional dan internasional di mana Mali menjadi anggotanya, serta kepada seluruh korps diplomatik mereka di seluruh dunia. Langkah ini semakin mengisolasi posisi kelompok separatis dan mempercepat terciptanya perdamaian yang langgeng di wilayah Sahara Maroko. (TIM/Red)

Editor : Yakop Mongan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel jurnalpapuanews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Refleksi Kemanusiaan Idul Adha: King Mohammed VI Berikan Pengampunan Kerajaan bagi Suporter Sepak Bola Senegal
Tegaskan Kedaulatan Maroko Atas Sahara, Prancis Ambil Langkah Konkret Perluas Investasi dan Konsuler
Dukungan Global Menguat: Austria Akui Otonomi Sahara di Bawah Kedaulatan Maroko sebagai Solusi Terbaik
Rabat Jadi Ibu Kota Buku Dunia UNESCO 2026, Wilson Lalengke Ucapkan Selamat!
Presiden Prabowo Disambut Pasukan Kehormatan di Istana Élysée, Perkuat Hubungan Indonesia–Prancis
Pemerintah Belanda Dukungan Penuh Otonomi Sahara di Bawah Kedaulatan Maroko
Bareskrim Ungkap Sindikat Judi Online dan TPPU Lintas Negara
Rampungkan Kunjungan ke Jepang dan Korsel, Presiden Prabowo Tiba di Indonesia
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 07:32 WIB

Refleksi Kemanusiaan Idul Adha: King Mohammed VI Berikan Pengampunan Kerajaan bagi Suporter Sepak Bola Senegal

Kamis, 21 Mei 2026 - 07:14 WIB

Tegaskan Kedaulatan Maroko Atas Sahara, Prancis Ambil Langkah Konkret Perluas Investasi dan Konsuler

Jumat, 24 April 2026 - 13:26 WIB

Dukungan Global Menguat: Austria Akui Otonomi Sahara di Bawah Kedaulatan Maroko sebagai Solusi Terbaik

Rabu, 15 April 2026 - 00:57 WIB

Rabat Jadi Ibu Kota Buku Dunia UNESCO 2026, Wilson Lalengke Ucapkan Selamat!

Rabu, 15 April 2026 - 00:55 WIB

Presiden Prabowo Disambut Pasukan Kehormatan di Istana Élysée, Perkuat Hubungan Indonesia–Prancis

Berita Terbaru